Followers

Sunday, May 5, 2013

[copy&paste]: Isyarat Haraki Dalam Surat Yasin ayat 13-27

 

Isyarat Haraki Dalam Surat Yasin ayat 13-27

 

 

Asbabun Nuzul Yasin

 

Sebelum membahas mengenai tafsir Yasin ayat 13-27, ada baiknya jika kita menelaah sepintas mengenai sebab turunnya Yasin, hal ini berfungsi sebagai tambahan wawasan bagi semua.

 

Imam al-Suyuti dalam Kitabnya yang berjudul Lubab al-Nuqul Fi Asbab al-Nuzul menyebutkan sebuah riwayat yang beliau ambil dari Imam Abu Nu`aim al-Asbahani, bahwa Ibnu Abbas berkata,"Suatu ketika Rasulullah SAW membaca surat al-Sajadah dengan suara yang keras, hingga orang-orang yang berasal dari suku Quraisy merasa kesal dan berdiri menuju Rasulullah SAW untuk menghentikannya. Dengan tiba-tiba, tangan-tangan mereka sendiri bergerak dan mencekik leher mereka, hingga mereka tidak bisa berbicara dan tidak bisa lagi melihat. Maka mereka segera datang kepada Nabi SAW dalam keadaan seperti itu dan berkata,"Allah sangat keras melindungi dan menyayangimu ya Muhammad." Maka Nabi SAW berdoa kepada Allah SWT, dan mereka kembali seperti keadaan semula. Maka kemudian Allah SWT menurunkan Yasin ayat 1-10, meskipun mereka tidak juga beriman seorang pun dengan kejadian tersebut.

 

Selanjutnya, mari bersama menelaah uraian tafsir Yasin ayat 13-27 berikut:

 

 

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا أَصْحَابَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَاءَهَا الْمُرْسَلُونَ (13) إِذْ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوا إِنَّا إِلَيْكُمْ مُرْسَلُونَ (14

 

"Dan sampaikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan (kisah ibrah) mengenai penduduk suatu daerah, ketika datang kepada mereka orang-orang yang diutus."

 

Ibnu Jarir dalam Tafsir al-Thabari menyebutkan sebuah riwayat yang bersumber dari Qatadah, bahwa yang dimaksud dalam cerita ini adalah Nabi Isa a.s, ketika beliau mengutus dua orang muridnya dari kaum hawariyin ke Antokiah, yaitu sebuah kota di Romawi/Rum. Penduduk daerah tersebut tidak memprcayai kedua utusan tersebut, hingga Nabi Isa a.s pun mengirim utusan yang ketiga untuk menguatkan keduanya.

 

Isyarat Haraki dalam ayat ini:

 

  • Dalam menyampaikan materi-materi dakwah, lebih efektif dengan menggunakan amtsal/perumpamaan, sehingga lebih mudah difahami oleh objek dakwah, metode inilah yang banyak digunakan dalam Al-Qur'an.
  • Pentingnya Ma'rifah al-Maidan (keluasan pengamatan dan pengetahuan lapangan) bagi seorang qiyadah dakwah yang mencakup berbagai daerah, tidak hanya daerah yang terdekat dan mudah terjangkau, tetapi juga daerah-daerah jauh dari jangkauan, jika dimungkinkan adanya peluang bagi perkembangan dakwah, ditinjau dari segi kestrategisan daerahnya.
  • Pengamatan perkembangan dakwah di setiap daerah oleh qiyadah; Dengan mengetahui kondisi detail perkembangan dakwah di sebuah daerah, memungkinkan seorang qiyadah dakwah untuk mengambil keputusan yang cepat dan tepat. Inilah yang dilakukan oleh Nabi Isa a.s dengan mengirim utusan dakwahnya yang ketiga.
  • Kesatuan hati dan kesolidan gerak para aktivis yang diamanakan bertugas dalam satu wilayah dakwah; Isyarat inilah yang dimaksud dalam pernyataan ketiga utusan di atas dengan menyatakan secara bersama-sama bahwa mereka adalah utusan dakwah.

 

 

قَالُوا مَا أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا وَمَا أَنْزَلَ الرَّحْمَنُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَكْذِبُونَ (15) قَالُوا رَبُّنَا يَعْلَمُ إِنَّا إِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُونَ (16) وَمَا عَلَيْنَا إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ (17

 

"Mereka (penduduk daerah tersebut) berkata,"Tidaklah kalian (terlihat di mata kami) melainkan hanya sebagai manusia biasa, dan (sepengetahuan kami) Allah SWT tidak menurunkan sesuatupun, tidaklah kalian (menurut pandangan kami) kecuali hanyalah orang-orang yang berdusta. Mereka (para utusan tersebut) mengatakan sesungguhnya Tuhan kami mengetahui bahwa kami benar-benar adalah utusan dakwah yang diutus kepada kamu sekalian. Dan tidaklah ada kewajiban atas kami kecuali hanya menyampaikan (mengerjakan)"

 

Ibnu Jarir melanjutkan penjelasan beliau mengenai respon penduduk daerah tersebut setelah datangnya utusan ketiga, dan juga setelah mereka bertiga mengatakan bahwa mereka adalah utusan dakwah yang sengaja didatangkan ke daerah tersebut, penduduk daerah tersebut hanya berkata,"Tidaklah kalian wahai orang-orang yang mengaku sebagai utusan dakwah, melainkan hanya sebagai manusia biasa seperti kami. Jika seandainya kalian adalah utusan yang diamanahkan untuk berdakwah kepada kami, maka seharusnya yang datang bukanlah manusia seperti kalian, akan tetapi seorang malaikat."

 

Isyarat Haraki dalam ayat ini:

 

  • Penentangan terhadap dai adalah sunnatullah dalam dakwah.
  • Salah satu alasan yang menjadikan objek dakwah menolak dakwah adalah status social dainya. Oleh karena itu, perlu adanya keseimbangan status social antara dai yang ditugaskan dengan objek dakwah yang akan didakwahinya. Seorang pengusaha yang besar dan sukses sebaiknya didakwahi oleh pengusaha yang sama besar dan suksesnya, seorang yang berkedudukan didakwahi oleh orang yang berkedudukan pula. Meskipun peluang untuk ditolaknya dakwah tetaplah ada, sebagaimana kisah di atas. Namun, bukan berarti ketidaksamaan dalam status social kemudian menjadi alasan untuk berdiam diri dari mendakwahi orang-orang yang status sosialnya lebih tinggi. Hal ini dilakukan jika seandainya sudah diusahakan terlebih dahulu, dan yang dihasilkan hanyalah penolakan demi penolakan, sebagaimana kisah di atas.
  • Keashlian dakwah (meminjam bahasa Ust.Rahmat Abdullah-Semoga Allah merahmati beliau-) haruslah menjadi sebuah hal yang tertanam kokoh di hati seorang dai, yang dengannya lahir sebuah kesadaran dan komitmen untuk berkontribusi dalam barisan dakwah ini, tanpa menunggu dan membutuhkan legalisasi-legalisasi keduniaan yang lain, selain dari legalisasi yang telah disampaikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Inilah yang mendorong seorang dai untuk berkata,"Sesungguhnya cukuplah Tuhan kami yang mengetahui, bahwa kami benar-benar orang-orang yang diamanahi untuk menyampaikan dakwah ini kepada kalian."
  • Huruf ta'qid (Huruf Penguat/untuk penekanan makna) dalam kata"Lamursalun" yang berarti "Benar-benar orang yang diutus", menyiratkan makna tentang keyakinan yang kokoh dan mengakar dalam hati seorang dai mengenai hakikat dakwahnya. Ia memahami hakikat dakwahnya bukan sebagai tuntutan wajihah atau pun permintaan hizbnya, tetapi ia menyadari sesadar-sadarnya bahwa yang meminta dan menuntutnya adalah Allah dan Rasul-Nya.
  • Sering ditemukan dalam dakwah ini orang-orang yang tidak juga terbuka hatinya untuk menerima kebenaran dakwah, meskipun sudah dilakukan berbagai cara untuk mengajak dan memahamkannya. Tidak perlu terlalu jauh, kadang-kadang yang menjadi seperti ini justru adalah salah satu anggota keluarga seorang dai itu sendiri. Dalam kondisi seperti ini, seorang dai haruslah ingat kembali bahwa misi utama yang di embankan kepadanya hanyalah ikhtiar dan terus berikhtiar, adapun urusan hidayah, maka itu adalah hak Allah SWT yang menentukannya.

 

 

قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ (18) قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ (19

 

"Mereka (penduduk daerah tersebut) berkata, sesungguhnya kami telah ditimpa kesialan dengan (datangnya) kalian, jika kalian tidak berhenti (dari mendakwahi kami), maka kami akan merajam kalian, dan akan menimpakan kepada kalian makar (siksa) yang pedih (keji). Mereka (para utusan tersebut) berkata, sesungguhnya kesialan (malapetaka) yang menimpa kalian adalah karena ulah tangan kalian sendiri, apakah kalian sudah memahami bahwa kesialan kalian adalah karena ulah kalian sendiri? Akan tetapi kalian bahkan sudah termasuk kaum yang sangat berlebihan (dalam maksiat kepada Allah)."

 

Tsaqofah:

 

Dalam qiraat yang lain, kata yang digaris bawahi di atas (أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ) dibaca dengan (أَيْنَ ذُكِرْتُمْ), meskipun dengan tidak menimbulkan perubahan makna yang signifikan. Hal ini bertujuan untuk mempermudah pengucapan huruf Kaf. Karena bagi sebagian suku Arab, penyebutan huruf tasydid sesudah dhammah merupakan suatu hal yang sulit karena sangat jarang digunakan dalam bahasa keseharian mereka.

 

Isyarat Haraki dalam ayat ini:

 

  • Pentingnya menumbuhkan dan menjaga sikap al-Syaja`ah (keberanian) dalam diri seorang dai. Dengan adanya syaja'ah dalam dirinya, seorang dai tidak akan mudah mundur, apalagi lari dari medan dakwah dan jihad, hanya karena berhadapan dengan ancaman fisik dan psikis yang disampaikan oleh pihak-pihak yang tidak senang terhadap dakwahnya.
  • Pentingnya melatih rasionalitas dan memadukannya dengan kemampuan retorika yang memadai bagi seorang dai, agar setiap argument dan hujjah yang disampaikannya mampu ditangkap dengan jelas oleh objek dakwahnya.
  • Perpaduan antara asy-Syaja'ah (keberanian) dengan kemampuan rasionalisasi yang disudah didukung oleh kemampuan retorika yang memadai, membuat para utusan dakwah dalam ilustrasi ayat di atas, mampu menyangga dan mematahkan setiap tuduhan yang disampaikan terhadap dakwah yang mereka bawa.

 

 

وَجَاءَ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَى قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ (20) اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ (21

 

"Dan datanglah dari sudut kota, seorang laki-laki yang bergegas (terburu-buru), ia berkata,"Wahai kaumku! Ikutilah oleh kalian orang-orang yang diutus ini. Ikutilah oleh kalian orang-orang yang tidak meminta balasan apapun dari kalian ini, karena mereka adalah orang-orang yang sudah mendapat petunjuk."

 

Imam Ibnu Jarir menyebutkan bahwa laki-laki tersebut bernama Habib bin Murri. Sebuah riwayat yang disampaikan oleh Imam Wahb bin Munabbih al-Yamani menyebutkan dari Ibnu Abas, bahwa ia adalah seorang penduduk Antokiah yang berprofesi sebagai al-jarir (ana belum menemukan terjemah sebenarnya kata ini, hanya saja dalam kamus al-Munawwir dituliskan maknanya adalah kendali dan tali kekang). Ana menduga mungkin maksudnya adalah seorang yang bekerja sebagai gembala hewan ternak, atau sejenisnya.

 

Beliau adalah seorang yang berbadan kurus yang bertempat tinggal di salah satu sudut kota, ia berjalan dengan cepat menuju kumpulan kaum tersebut. Beliau adalah seorang yang sangat suka bersedekah. Jika sore hari telah tiba, maka beliau segera mengumpulkan dan menghitung penghasilannya pada hari tersebut dan membaginya menjadi dua bagian, sebagiannya unutk keperluan beliau, dan sebagiannya lagi untuk disedekahkan….subhanallah sekali..

 

Satu hal yang menarik dari beliau yaitu dengan kondisi tubuhnya yang kurus, kesibukan dan kelelahan beliau mencari nafkah di siang hari, dan juga kondisi tubuhnya yang sudah sangat lemah, tidak membuat beliau lalai dan lemah dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah.

 

Isyarat Haraki dalam ayat ini:

 

  • Seorang kader dakwah sejati haruslah memiliki perhatian dan kontribusi nyata untuk mendukung agenda dan kerja dakwah yang dilaksanakan di sekitar daerah tempat tinggalnya.
  • Kondisi tubuh, kelelahan dan keletihan yang dialami di siang hari untuk mencari nafkah, bukanlah alasan untuk menurunkan standar amal yaumi yang sudah ditetapkan dan menjadi kebiasaan seorang dai.
  • Pentingnya Tarbiyah iqtisadiyah (manajemen keuangan rumah tangga) untuk menopang keberjalanan program-program dakwah. Sebagaimana Ust.Rahmat Abdullah –semoga Allah merahmati beliau- katakan bahwa "Brankas kita dalam dakwah ini adalah kantong kita sendiri."

 

 

 وَمَا لِيَ لَا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (22) أَأَتَّخِذُ مِنْ دُونِهِ آلِهَةً إِنْ يُرِدْنِ الرَّحْمَنُ بِضُرٍّ لَا تُغْنِ عَنِّي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا وَلَا يُنْقِذُونِ (23) إِنِّي إِذًا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (24) إِنِّي آمَنْتُ بِرَبِّكُمْ فَاسْمَعُونِ (25

 

"Dan ada apakah denganku, jika aku tidak menyembah Dzat yang telah menciptakanku, sedang kepadanya kita semua dikembalikan. Apakah aku akan mengambil tuhan-tuhan selain-Nya, sedangkan jika al-Rahman menimpakan malapetaka kepadaku, maka mereka (tuhan-tuhan tersebut) tidak akan dapat memberikan syafa'at (pertolongan) kepadaku dan tidak pula dapat menyelamatkanku. Sesungguhnya jika aku melakukan yang demikian, maka aku telah berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku beriman kepada Tuhan kalian, maka dengarkanlah aku."

 

Tsaqofah:

 

Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai orang yang mengeluarkan perkataan pada ayat terakhir di atas, yaitu,"Sesungguhnya aku beriman kepada Tuhan kalian, maka dengarkanlah aku."

 

Sebagian ulama berpendapat bahwa perkataan ini adalah perkataan yang diucapkan oleh Habib bin al-Murri. Sebagian yang lain berpendapat bahwa perkataan ini adalah perkataan yang disampaikan oleh para utusan sebelumnya. Setelah menyampaikan perkataan tersebut, maka Habib al-Murri pun dibunuh oleh kaumnya sendiri, hingga ia syahid.

 

Tsaqofah:

 

Para ahli tafsir berselisih mengenai cara kaumnya membunuhnya, sebagian mengatakan bahwa ia dirajam (dilempari) batu oleh kaumnya hingga ia meninggal. Namun satu hal yang sangat mengharukan, selama menahan rasa sakit akibat dilempari kaumnya tersebut, ia hanya terus menerus mengucapkan doa,"Wahai Tuhanku, berilah petunjuk kepada kaumku, wahai Tuhanku, berilah petunjuk kepada kaumku, wahai Tuhanku, berilah petunjuk kepada kaumku!" beliau tetap mengucapkan doa tersebut hingga meninggal.

 

Ulama tafsir yang lain berpendapat bahwa kaumnya menjatuhkannya ke tanah secara bersama-sama, lalu kemudian menginjak-injak tubuh kurus beliau hingga meninggal.

 

Isyarat Haraki dalam ayat ini:

 

  • Pentingnya kekokohan pemahaman ketauhidan dan implementasinya bagi seorang dai.
  • Pentingnya mensyiarkan ketauhidan, hal ini tercermin dalam pernyataan Habib bin al-Murri di atas,"Sesungguhnya aku beriman kepada Tuhan kalian, maka dengarkanlah aku."
  • Pentingnya penguasaan rasionalisasi ketauhidan dan konsekuensinya dalam kehidupan seorang dai.
  • Ketika sebuah agenda dan program dakwah mengalami kegagalan ataupun ketidaksuksesan pada sebuah wilayah, maka yang paling merasa bersalah adalah kader-kader dakwah yang ada pada daerah tersebut. Inilah isyarat yang disampaikan dalam ilustrasi cerita di atas, yaitu beralihnya persoalan dari tiga orang kader dakwah utusan kepada Habib bin al-Murri, sebagai kader dakwah yang ada pada daerah tersebut.

 

 

 قِيلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ قَالَ يَا لَيْتَ قَوْمِي يَعْلَمُونَ (26) بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُكْرَمِينَ (27

 

"Dikatakan kepadanya (ketika telah meninggal), masuklah engkau ke dalam surga. Ia berkata,"Wahai sekiranya kaumku bisa mengetahui hal ini. Yaitu penyebab Tuhanku mengampuniku, dan menjadikanku di antara orang-orang yang dimuliakan."

 

Inilah akhir dari cerita ini, yang inti akhirnya adalah akhir yang baik (husnul khatimah) bagi orang-orang yang meninggal dan syahid di jalan dakwah ini. Pada akhir cerita ini, seolah-olah Allah ingin menyingkap rahasia alam kubur kepada setiap aktivis dakwah, bahwa seperti inilah kenikmatan yang diberikan kepada setiap mujahid di kubur mereka. Semoga Allah SWT menjadikan kita satu di antara mujahid yang meninggal karena syahid di jalan-Nya….amien.

 

Wallahu A`lam

 

Semoga bermanfaat……….

 

Bandung, 22 April 2013/12 Jumadil Akhir 1434 H
Khadim Al-Qur'an wa As-Sunnah

Aswin Ahdir Bolano

 

 

Referensi :

Tafsir al-Thabari

Lubab al-Nuqul Fi Asbab al-Nuzul Imam al-Suyuti

 

 

*aktivis-dakwah.blogspot.com/2013/04/isyarat-haraki-dalam-surat-yasin-ayat.html

 

 

"Dar-ul mafasid aula min jalbil masholih"

Kerana nak meraih manfaat (Muslim jadi wakil rakyat), you rela yang mudharat terus berleluasa, yang zalim dan pengkhianat terus berkuasa? Bangla, Myanmar, Indon dapat i.c…. duit berjuta-juta habis untuk dakwat yang tidak kekal…. Video seks berterusan…. Politik samseng bertebaran…

 

Kembalilah kepada kaedah feqah “Menolak Mudharat/ Kerosakan itu diutamakan berbanding meraih manfaat.”

 

Ini Kali Lah!!

 

Saturday, May 4, 2013

Kenapa Husam???

Bagaimana Husam Musa Menawan Pemerintah China

Posted on  by Shahabudeen

Bagaimana anda menilai kehebatan seseorang pemimpin atau peniaga ? Antara ciri seorang pemimpin yang hebat adalah seorang yang mampu mencairkan hati orang yang berurusan dengannya.

Saya teringat sewaktu saya menyertai delegasi Kerajaan Negeri Kelantan ke China tempoh hari. Saya berada dalam semua mesyuarat yang diadakan secara berasinganan dengan Gabenor Xinjiang, Timbalan Gabenor Xinjiang, Canselor beberapa Universiti, pertemuan dengan pimpinan Islam China dan mesyuarat dengan Dewan Perniagaan CCPIT (China Council for The Promotion of International Trade)

Dari mesyuarat-mesyuarat ini saya belajar bagaimana Husam Musa yang mengetuai delegasi ini berbicara dengan pemerintah-pemerintah ini. Taktik yang digunakan adalah sangat bijak dan berkesan.

Senario pertama

Sewaktu kami bermesyuarat dengan timbalan gabenor wilayah autonomi Xinjiang, mesyuarat dimulakan dengan tuan rumah memulakan ucapan.

Ucapan timbalan gabenor yang pertama ini adalah kira-kira 10 minit. Beliau mula memperkenalkan mengenai Xinjiang. Mengenai bilangan populasi, keluasan tanah, komposisi penduduk, kekayaan hasil bumi, perdagangan dan sebagainya.

Sekarang tiba pula giliran Husam untuk menyambut ucapan ini.

Husam dengan nada yang tenang bercakap “Terima kasih atas jemputan yang diberikan kepada kami, semalam kami dijamu di sebuah restoran yang cantik dengan budaya Uighur. Saya tertarik dengan salah satu hidangan iaitu pizza Urumqi.”

Restauran Miraj

Kami dihidangkan makanan tradisional termasuk Pizza Urumqi

Di saat ini, saya dapat melihat timbalan gabenor yang bermuka serius ini mula mengukirkan senyuman…

Husam menambah lagi “Jadi kami sangat tertarik dengan budaya anda. Oleh yang demikian kami berharap sebagai permulaan, kita boleh berfikir untuk mengimport pizza ini ke negeri kami Kelantan”

Ucapan ini disambut gelak-tawa dikalangan yang menghadiri mesyuarat ini. Di saat ini juga, saya dapat lihat jelas kegembiraan di muka timbalan gabenor ini.

Timbalan gabenor ini menyambut ucapan Husam dengan gembira dan mula memberi pelbagai tawaran-tawaran menarik untuk kerajaan Kelantan bertapak di Xinjiang.

Saya pada mulanya agak skeptikal apabila Husam memulakan ucapan seperti ini, namun akhirnya saya sedar saya salah. Apa yang penting adalah hasilnya sangat memberangsangkan. Jadi apa yang saya belajar ialah, untuk menawan hati seseorang, kita perlu menyentuh benda kecil yang bermakna kepada emosi orang tersebut.Husam berjaya dari aspek ini.

Di saat itu, saya mula kagum dengan pendekatan Husam.

Muka serius

sewaktu mesyuarat

Menerima Cenderamata

Husam Menghadiahkan Sutera Kelantan

Senario kedua

Pada keesokan harinya, delegasi kami bertemu pula dengan Gabenor Xinjiang. Ini adalah mesyuarat terbesar dalam rombongan ini. Saya dapat lihat bas kami diawasi oleh pegawai-pegawai kerajaan Xinjiang dan kami diberikan layanan ketua kerajaan.

Kali ini saya mula memasang telinga dengan teliti untuk mendengar apa pula strategi Husam pada kali ini.

Mesyuarat bermula seperti biasa dengan tuan rumah memulakan ucapan. Seperti sebelum ini Gabenor ini mula bercakap dengan memperkenalkan mengenai Xinjiang. Mengenai bilangan populasi, keluasan tanah, komposisi penduduk, kekayaan hasil bumi, perdagangan dan sebagainya.

Kini tiba giliran Husam untuk bercakap. Husam memulakan ucapannya “Terima kasih saya ucapkan atas jemputan yang diberikan, Xinjiang adalah sebuah wilayah yang sangat besar dan sangat kaya dengan sejarah laluan sutera. Kami di Kelantan berbangga dapat menerima jemputan dari negeri sebesar ini. Kami menganggap hubungan Xinjiang dan Kelantan adalah seperti hubungan abang dan adik.”

Pada saat ini bagaikan dejavu saya melihat Gabenor mula membuka mata dan kelihatan mengukir senyuman ringkas. Untuk pengetahuan anda, di China, apabila disebut hubungan abang dan adik, orang China akan sangat tertarik. Ini mungkin disebabkan polisi satu pasangan satu anak yang menjadikan hubungan ini hilang. Jadi mereka agak tersentuh apabila disebut mengenai ini.

Husam menambah “Jadi sebagai adik kecil yang datang dari jauh. Kami datang untuk belajar dari abang besar. Kami perlukan didikan dan tunjuk ajar dari abang besar untuk memajukan wilayah kami supaya menjadi berjaya seperti wilayah abang kami ini”

Selepas itu, saya nampak level ice breaking telah selesai dan Gabenor mula menawarkan pelbagai tawaran termasuk untuk melawat sendiri Kelantan.

Saya lihat strategi kedua ini juga sangat berjaya dan berkesan.

Hasil dari kedua-dua mesyuarat ini sangat menguntungkan Kelantan berbanding Xinjiang.

Husam Bercerita Mengenai Hubungan Abang-Adik

Husam Menghadiahkan Dinar Emas dan Perak

Senario ketiga

Pada senario ketiga pula, sewaktu berjumpa dengan pimpinan Islam di China.

Pemimpin Islam ini memulakan ucapan dengan menceritakan mengenai sejarah Islam di China dan kedudukan orang Islam di China.

Kali ini Husam menggunakan strategi yang nyata berbeza.

Husam memulakan ucapan dengan “Kami sangat gembira dapat berjumpa saudara Islam yang jauh dari negara kami yang hidup dalam budaya berbeza. Pada 600 tahun yang lampau, Laksamana Cheng Ho telah melawat kami. Bukan untuk berperang, bukan untuk menakluk, tetapi untuk menjalin hubungan.

Oleh yang demikian, kami datang ke sini sebagai membalas lawatan Laksama Cheng Ho supaya kita umat Islam saling menziarahi dan bersaudara”

Seperti sebelum ini, sewaktu disebut perkataan Laksamana Cheng Ho, pimpinan Islam ini mula mengukir senyuman dan menjadi sangat tertarik.

Mereka membalas “Kami agak terkejut bahawa masih terdapat orang yang mengenangkan tokoh Islam seperti Cheng Ho di negara luar. Malah di negara kami pun, kami tidak memberi penekanan seperti ini. Kami sangat bersyukur dapat berjumpa dengan delegasi seperti ini”

Saya terus kagum dengan pendekatan sebegini.

Pimpinan Islam Di Chengdu

Imam ini terpaksa bangun untuk menunjukkan tanda syukur dan gembira

Beliau terus gembira sehingga habis mesyuarat

Gambar beramai-ramai di Masjid Chengdu

Kesimpulan yang kita dapat buat disini, tidak kisah kita bercakap mengenai pizza atau mengenai  abang besar dan adik atau mengenai Laksamana Cheng Ho. Yang penting adalah kita menyentuh dan seterusnya menawan hati manusia.

Jika Husam mengambil pendekatan berbangga mengenai Kelantan, saya tidak fikir mesyuarat ini akan menguntungkan Kelantan. Namun dengan pendekataan bijak iaitu menyentuh sensitiviti positif seseorang, Husam menjadikan delegasi ini sebagai sesuatu yang berjaya dan membuahkan hasil.

Pada setiap mesyuarat juga, Husam akan menghadiahkan Dinar Emas dan Perak, Sutera Kelantan, Keropok Kelantan dan banner kecil “Expo Cheng Ho” yang telah diadakan dengan jayanya di Kelantan tempoh hari.

Pendekatan dan kaedah yang Husam gunakan adalah sangat berkesan, efektik dan menguntungkan.

Tahniah Husam Musa !!!

 

(Diambil dari http://www.shahabudeenjalil.com/2011/03/bagaimana-husam-musa-menawan-pemerintah-china/)

 

[copy&paste]: KEBIJAKAN AJAIB PEMIMPIN PENTING DALAM POLITIK SAINGAN

[1]

Politik Malaysia pada hari ini, mempunyai dua sudut, iaitu berhadapan dengan lawan, dan berhadapan dengan kawan. Jika berlawan, caranya adalah menggunakan segala kekuatan yang ada menjatuhkan pihak lawan. Adapun dengan kawan, perlu mengambil sikap berlumba-lumba mempamerkan yang terbaik, tanpa mengkhianati dan melakukan kezaliman terhadap mereka.

Dalam menandingi kawan, perlu kepada kebijakan ajaib. Iaitu, kebijakan dari pihak individu pemimpin dalam melihat waqie, disamping dapat melakukan ramalan atau Tawaqqu' terhadap apa yang bakal berlaku di masa depan. Dengan itu, dilakukan tindakan-tindakan yang mampu melahirkan kejayaan yang pasti memberi keuntungan kepada Islam.

Dalam sejarah PAS, kebijakan ajaib ini wujud pada diri ustaz Fadzil Noor. Saat pemimpin PAS "menghentam rapat" terhadap Anwar Ibrahim yang baru sahaja dipecat dari jawatan Timbalan Perdana Menteri dan dalam UMNO, Ustaz Fadzil Noor telah melakukan tindakan yang cukup tidak popular, iaitu menziarahi Anwar Ibrahim. Walau dipersoal oleh sebilangan pemimpin PAS ketika itu, ternyata Ustaz Fadzil Noor mempunyai kebijakan ajaib, yang mana dengan tindakan Ustaz Fadzil Noor ketika itu menyebabkan sokongan terhadap PAS meningkat secara mendadak, sehingga PAS bukan sekadar berjaya mempertahankan pemerintahannya di Kelantan, tetapi telah melebarkan kekuasaan di terengganu.

[2]

Dalam politik berlawan [PAS lawan UMNO], kebijakan ajaib ini adalah sangat penting. Tetapi, ia bertambah penting dalam politik berkawan [PAS dengan PKR dan DAP]. Dalam politik berlawan, ia tidak berapa rumit. Tetapi politik kawan, ia perlu mempunyai kemampuan untuk menarik perhatian rakyat umum dalam memberi keyakinan kepada kita berbanding kepada rakan-rakan [bukan bermakna mengkhianati, tetapi berlumba-lumba dengan rakan-rakan dalam memastikan rakyat lebih meyakini kita]

Tidak dinafikan, kebijakan ajaib ini, secara hukum asalnya [atau : Al-hukm Lizatih], ia tidak wajib. Tetapi, dari sudut hukum lighairihnya, ia adalah satu perkara yang wajib. Ini kerana, kaedah fiqh ada menyebut;

ما لا يتم الواجب الا به فهو واجب

Maksudnya;
"Tidak sempurna perkara wajib melainkan dengannya, maka melakukannya itu adalah wajib"

Memastikan PAS mendominasi atau lebih diyakini berbanding PKR dan DAP adalah wajib. Lalu, ia tidak boleh tercapai kecuali kebijakan ajaib pemimpin, maka mempamerkan pemimpin yang ada kebijakan ajaib ini adalah wajib. Wajibnya itu, bukan bersifat lizatih, tetapi bersifat lighairih.

Kebijakan ajaib ini, mempunyai dua sudut, iaitu;

1- kebijakan ajaib itu datang dari diri pemimpin itu sendiri.
2- Kebijakan ajaib itu datang dari penasihat-penasihat yang bijak.

[3]

KEBIJAKAN AJAIB PADA DIRI PEMIMPIN SENDIRI

Dalam Al-Quran, Allah SWT ada mempamerkan kisah Talut dan Jalut. Dalam kisah itu, kita akan dapati bagaimana Allah SWT mempamerkan kepentingan kebijakan ajaib ini bagi seseorang pemimpin.

Firman Allah;

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا قَالُوا أَنَّى يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Maksudnya;
"dan Nabi mereka pula berkata kepada mereka: "Bahawasanya Allah telah melantik Talut menjadi raja bagi kamu. mereka menjawab: "Bagaimana Dia mendapat Kuasa memerintah Kami sedang Kami lebih berhak Dengan Kuasa pemerintahan itu daripadanya, dan ia pula tidak diberi keluasan harta kekayaan?" Nabi mereka berkata:" Sesungguhnya Allah telah memilihnya (Talut) menjadi raja kamu, dan telah mengurniakannya kelebihan Dalam lapangan ilmu pengetahuan dan kegagahan tubuh badan". dan (ingatlah), Allah jualah Yang memberikan Kuasa pemerintahan kepada sesiapa Yang dikehendakiNya; dan Allah Maha Luas (rahmatNya dan pengurniaanNya), lagi meliputi ilmuNya"
[Al-Baqarah : 247]

Dalam ayat ini, Allah SWT meletakkan kehebatan yang ada pada Talut itu dua perkara, iaitu;

1- Keluasan ilmu [kebijakan ajaib]
2- Kekuatan tubuh badan.

Dalam menafsirkan makna "bastah fi Al-Ilm" atau diterjemah sebagai "kelebihan lapangan ilmu" atau diterjemah sebagai "kebijakan ajaib", Imam Ibnu Kathir menafsirkannya sebagai, "Ia lebih mempunyai pengetahuan dari kalangan kamu [orang ramai], lebih cerdik, lebih berkemampuan dalam menjangka masa depan dari kalangan kamu. Juga mempunyai kekuatan pengetahuan tentang peperangan" [Ibnu Kathir : 1/666]

Ibnu Asyur pula menafsirkan maksud dengan "kebijakan ajaib" menerusi ayat ini dengan katanya, "ia adalah perkara yang sangat perlu dalam politik atau dalam mentadbir urusan umat. Iaitu, ia mampu kembali kepada pandangan yang tepat dan kekuatan tubuh badan. [ini kerana] dengan pandangan [yang tepat] itu dapat memberi banyak kemaslahatan kepada umat, walau dalam waktu yang sempit sekalipun, atau dikala sukar mendapat keputusan dari pihak yang diminta pandangan atau dikala berlaku perselisihan dalam ahli-ahli mesyuarat. Dengan kekuatan pula, ia mampu melahirkan kekukuhan dalam keyakinan tentera [petugas dan ahli bawahan]" [Tanwir wa Tahrir : 2/405]

[4]

Nabi SAW juga mempunyai kebijakan ajaib ini. ekoran itu, tidak hairan kita akan dapati bahawa Rasulullah SAW diterima menjadi "PM Madinah" dikala baginda sampai di yasrib, walhal sebelum itu sudah ada kempen dan lobi yang dilakukan oleh Abdullah bin Ubai bin Salul.

Begitujuga, nabi SAW ada memaklumkan kepada Aisyah bahawa Kaabah itu tidak berada pada tapaknya yang tepat. Namun, setelah fath Makkah, nabi SAW masih tidak meletakkan tapaknya itu pada tempatnya yang tepat juga. Tindakan Nabi SAW itu, ditanya oleh Aisyah, menyebabkan Nabi SAW menjawab;

لَوْلَا حِدْثَانُ قَوْمِكِ بِالْكُفْرِ لَفَعَلْتُ

Maksudnya;
"Jika tidak kaum kamu baru meninggalkan kekufuran, pasti aku sudah lakukannya"

[Muwatta' : 710]

Dari hadis ini, kita dapat lihat kebijakan ajaib yang ada pada nabi SAW adalah, baginda SAW dapat mengagak atau "Tawaqqu'" dalam menjangkakan sesuatu yang buruk yang bakal berlaku, seperti perpecahan di kalangan umat makkah, menyebabkan nabi SAW tidak meletakkan binaan kaabah itu pada tapaknya yang tepat.

[5]

Dalam sirah Sulh Al-Hudabiyyah [Perjanjian Hudaibiyyah], nabi SAW didatangi beberapa orang wakil Quraish untuk berunding dengan Nabi SAW. Baginda SAW amat bijak, dengan melihat kepada wakil yang dihantar pun sudah cukup untuk Nabi SAW memastikan tujuan kedatangan mereka dengan tujuan apa.

Sehinggakan, apabila nabi SAW melihat sahaja Suhail bin Amr datang untuk berunding, nabi SAW terus berkata, "Para pembesar Quraish sudah bersedia untuk berdamai, kerana itulah mereka melantik suhail sebagai perunding".

Dan lagi, dalam perjanjian Hudaibiyyah juga, kita dapat melihat bagaimana kebijakan ajaib itu pada Nabi SAW, apabila Nabi SAW berjaya memberi keyakinan kepada para sahabat yang tidak bersetuju dengan isi kandungan perjanjian yang dilihat 'berat sebelah', tetapi mengandungi maksud yang banyak menguntungkan kepada islam selepas dari itu.

[6]

KEBIJAKAN AJAIB DARI PENASIHAT

Umar bin Al-Khattab seorang khalifah yang tidak dinafikan mempunyai kebijakan ajaib ini. ini terbukti, bahawa beliau banyak melakukan ijtihad-ijtihad baru yang ternyata memberi banyak keuntungan kepada Islam.

Namun, beliau juga mempunyai kelemahan-kelemahan sebagai manusia biasa. Ekoran itu, beliau mempunyai penasihat-penasihat yang hebat, yang dapat membantu beliau dalam menajamkan lagi kebijakan ajaib yang ada pada diri beliau.

Diceritakan dalam satu atsar, bahawa seorang perempuan muda telah datang berjumpa dengan Umar yang ketika itu, Kaab bin Sur sedang duduk bersama dengannya.

Perempuan itu berkata, "Wahai Amirul Mu'minin, aku tidak melihat seorang pun lelaki yang lebih baik daripada suamiku. Demi Allah, malamnya sentiasa qiyamullail, dan siangnya sentiasa berpuas".

Mendengar perkataan perempuan itu, Umar memuji suaminya itu. Perempuan itu merasa malu dan terus pulang dengan wajah yang hampa.

Melihat keadaan itu, Kaab berkata kepada Umar, "Wahai Amirul Mu'minin, apakah tuan tidak mengira masalah perempuan itu terhadap suaminya?

Umar berkata, "apa sebenarnya? Lalu berkata (kaab), sesungguhnya perempuan itu datang untuk membuat laporan kepada kamu. Apabila suaminya sentiasa dengan ibadat, bilakah masanya suaminya meluangkan masa untuknya (dengan jimak)?"

Mendengar kata-kata kaab, Umar menyuruh suami perempuan itu dipanggil. Ketika suami itu berada di hadapan Umar, Kaab diminta agar menjatuhkan hukuman terhadap suami tersebut.

Kaab terus berkata, "Sesungguhnya aku melihat, seakan-akan lelaki ini mempunyai tiga orang isteri. Dan isterinya (yang datang) itu adalah isteri yang keempat. Maka aku hukumkan kepadanya, tiga hari dan tiga malam merupakan hari dia beribadat (puasa dan qiyamullail), dan bagi isterinya adalah hari yang keempat pada siang dan malamnya"

Umar bertanya, bagaimana kamu berhukum ini? Kaab menjawab, aku berdalilkan firman Allah SWT;

فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ

"maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat"

(Surah An-nisa' : 3)

Mendengar ini, Umar terus berkata; "Demi Allah, pandangan kamu dalam perkara pertama adalah bersangatan aku kagum berbanding satu lagi. Pergilah kamu menjadi qadi kepada penduduk Basrah" [Al-Mughni : 16/53 – 54]

[7]

Nyata, kebijakan ajaib ini perlu bagi seseorang pemimpin dalam politik saingan. Tanpanya, ia akan menyebabkan kelembapan sesuatu gerakan, seterusnya gerakan itu sentiasa didominasi, bukan mendominasi. Keadaan ini sudah pasti, adalah perkara yang tidak sepatutnya berlaku.

Sekian

Wallahu 'Alam

Al-Bakistani

- Sri Indah [b] Sg Buloh
17 januari 2011 * 3:03 petang

(http://g-82.blogspot.com/2011/01/kebijakan-ajaib-pemimpin-penting-dalam.html)