Followers

Showing posts with label Klasifikasi Pembaca: 02. Show all posts
Showing posts with label Klasifikasi Pembaca: 02. Show all posts

Sunday, November 28, 2010

PARACHUTE

Kata orang, minda itu umpama parachute (payung terjun); ia hanya akan berfungsi, ketika ianya dibuka.

Begitulah, Allah SWT bahkan mengancam orang-orang yang tidak mahu mempergunakan akalnya, dengan ancaman penginaan. Dengan ancaman kekejian. Dengan ancaman “kekotoran”, tatkala menyebutkan “ar-rijs” (keji, kotor, najis) terhadap orang-orang yang tidak mahu mempergunakan akal.

“dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.”

(Surah Yunus [10:100])

Sungguh, bila saja minda tidak terbuka, bagaimana bisa kita berlapang dada? Dan begitu dada tidak bisa merasakan sejahtera (salamatus sadr) maka ketika itulah bibit-bibit awal berlakunya perpecahan.

Bukankah yang senantiasa dibanggakan oleh orang-orang beriman –seperti mana difirmankan ALLAH di dalam kalam-Nya- adalah deklarasi penuh kebanggaan betapa “wa qola innani minal muslimin“dan berkatalah: sesungguhnya aku ini dari kalangan oarng-orang muslimin!” Ternyata, yang dibanggakan oleh seorang duat –seperti yang diajar indah di dalam al-Quran- bukanlah deklarasi kita ini jemaah mana. Harakah mana. Kumpulan apa. Tidak! Tetapi, yang harus kau banggakan, adalah keIslaman kalian. Keimanan kalian. Ketaqwaan kalian. Ukhuwwah Islamiyah yang dituntut sesama saudara seagama mu. Bukan ungkapan sempit sebatas lima, enam ribu orang ahli gerakan Islam kalian sahaja.

Tatkala ketemu saudara seiman yang berbeza pandangan dan gerakan dengan kalian, bukankah lebih wajar kita bicara masalah keimanan? Bicara hal-hal yang mampu menimbulkan kesekepakatan. Bicara perkara-perkara yang mampu menghangatkan ukhuwah sesama kalian? Tapi, apabila dada telah sempit, yang pertama dan terutama yang harus dikau tanyakan begitu bertemu saudara seiman yang lain “gerakan”, setelah sekian lama tidak ketemu, adalah soal-soal kejamaahan yang tidak lain melainkan menjauhkan ia daripadamu. Bukankah pada non-muslim sahaja kita dituntut bergaul dengan baik? Bukankah dengan ahli kitab sahaja kita dituntut berbicara kalimah-kalimah “sawa’” yakni kesamaan? Nah, sejak bila ajaran Quran dan Sunnah mengajarkan kepada kita untuk senantiasa mencari titik seteru dan perbezaan kepada sesama saudara seperjuangan, hanya kerana ia berlainan harakah, jemaah, kumpulan dan gerakan?

“Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang Muslim

(Surah Ali Imran [3]:64)

Dada jadi sempit tatkala minda tidak dibuka. Dan minda jadi tidak berguna tatkala ia tidak dibuka. Lalu hiduplah ia dalam “kandang pemikiran”, “penjara pemikiran” yang telah disempadankan oleh musuh-musuh kita. Kandang inilah, yang dinamakan ghazwul fikri.

Seperti parachute, bukalah cepat minda mu, agar kau tidak jatuh terhempap menyembah bumi, lalu yang timbul tidak lain melainkan Kesakitan, kepedihan, dan keperitan. Sedang dengan parachute, kau bisa “menari” indah di langit nan tinggi, menikmati keluasan dan keindahan langit Ilahi. Untuk kemudian mendarat selamat di permukaan bumi. Dan menyuburkan ia dengan pandangan-pandangan indah di atas sana. Dan menyedarkan penghuninya akan keindahan hidup “di atas”, apa lagi tok nenek kita pun asalnya dari “sana.”

Bukalah parachute mu, dan moga selamat “pendaratan” mu. Bukalah mindamu, dan moga membumi segala ideamu.

Friday, October 8, 2010

[Terkini]: KOSMO,8 Okt - Harga Susu Dijangka Naik

"Dan sesungguhnya pada binatang ternakan itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada di dalam perutnya (berupa) susu yang “ikhlas” /bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya." [An-Nah [16]l:66]

Ada beberapa artikel menarik berkenaan analogi yang digunakan oleh al-Quran, yang menyamakan keikhlasan dengan murninya susu. Artikel-artikel tersebut boleh dilayari di sini:-

http://labyrinthpious.blogspot.com/2010/05/susu-ikhlas.html

http://el-biruni.blogspot.com/2010/10/ikhlas-bagaikan-susu.html

Saya tidak mahu menambah apa yang sudah sedia jelas, dan sedia indah yang telah disampaikan oleh kedua penulis blog di atas. Tahniah kepada mereka, kerana berjaya menghasilkan sebuah tadabbur yang serba mendalam. Tetapi, membaca tajuk akhbar KOSMO di atas, mengingatkan saya kepada kedua artikel itu. Teringat akan betapa keikhlasan itu, harus senantiasa seperti susu. Dan begitu diumumkan betapa “harga” susu pun akan naik, sebegitu jugalah harga sebuah keikhlasan. Keikhlasan itu tidak lagi sekadar teruji pada hal-hal kebiasaan, keikhlasan itu tidak lagi sekadar teruji pada pekerjaan-pekerjaan harian, tetapi keikhlasan itu juga –terutama pada mihwar muassasi ini- harus siap diuji dalam hal-hal meraih kekuasaan. Kerana begitu dakwah membesar, para kader dakwah sudah harus mula berani tampil ke hadapan. Tidak lagi sekadar menggauli ummah, tetapi bahkan tiba saatnya memimpini masyarakat.

Jika dulu, ibadat-ibadat mu, hanya kau dan ALLAH yang tahu. Tetapi kini, demi memberikan contoh yang baik untuk ummah, terkadang ibadat-ibadat mu harus ter”tonton” oleh masyarakat. Agar masyarakat mencintai para aktivis dakwah. Dan agar masyarakat kemudiannya, bisa mencontohi umat.

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya” [Ad-Dhuha [96]:11]

Kata Sayyid Qutb di dalam tafsir fi Dzilal al-Quran; “menyebut-nyebut nikmat Allah terutama nikmat iman dan hidayat merupakan salah satu dari cara melahirkan kesyukuran terhadap Allah yang mengurniakan nikmat itu.” Nah, bisa saja kau menyebut-nyebut amalanmu itu, dengan syarat, ia dilakukan tanpa menggadaikan keikhlasanmu. Bahkan, keikhlasan yang engkau terapkan, adalah keikhlasan yang “tinggi harganya.” Kerana Sayyid Qutb menyambung lagi; “dan cara melahirkan kesyukuran yang sempurna ialah berbakti kepada para hamba-Nya.”

Lihatlah ketinggian “harga keikhlasan” seorang Yusuf al-Qaradhawi ketika menjelaskan tentang kenapa beliau –setelah banyak kali menolak- akhirnya bersetuju untuk menulis biografi tentang dirinya (dan dakwahnya). Menulis biografi tentang diri sendiri, menurut Qaradhawi, seakan sama dengan menulis dan berbicara tentang diri sendiri. Mau tidak mau, ianya akan terwarnai dengan sikap membaguskan diri sendiri, mengagung-agungkan atau menghiasi diri sendiri di mata pembacanya, selain mendorong orang mengatakan “aku begini dan aku begitu”, sedang kata “aku” yang diungkapkan oleh makhluk, adalah kalimat yang dibenci dan merupakan awal kata buruk yang diucapkan oleh Iblis. Bukankah kisah penolakan, pengingkaran dan kesombongan, semuanya bermuara daripada kalimah ini? “Engkau ciptakan aku daripada api, sedang dia Engkau ciptakan daripada tanah” (Surah al-A’raf [7]:12)

Tetapi, keikhlsan itu tidak semestinya dengan menyembunyikan segala amal-amal soleh mu. Bahkan ketika mana menzahirkan amal-amalan itu justeru perlu, terutama di saat ummah tercari-cari role model yang bisa mereka ikuti, maka tatkala itulah “harga keikhlasan” menjadi mahal; iaitu di saat keikhlsan harus tetap di jaga, biarpun kita sudah perlu menzahirkan amalan baik kita.

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” [Al-Baqarah [2]:274]

“Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridaan Tuhannya, mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),” [Ar-Ra’d [13]:22]

“Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: "Hendaklah mereka mendirikan salat, menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi atau pun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan.” [Ibrahim [14]:31]

“Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat bertindak terhadap sesuatu pun dan seorang yang Kami beri rezeki yang baik dari Kami, lalu dia menafkahkan sebagian dari rezeki itu secara sembunyi dan secara terang-terangan, adakah mereka itu sama? Segala puji hanya bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tiada mengetahui.” [An-Nahl [16]:75]

Susu sudah naik harga. Maka begitu jugalah keikhlasan. Dengan naiknya dakwah ke mihwarnya yang baru, “harga” keikhlasan pun harus naik, sesuai dengan peredaran zaman.