Kata orang, minda itu umpama parachute (payung terjun); ia hanya akan berfungsi, ketika ianya dibuka.
Begitulah, Allah SWT bahkan mengancam orang-orang yang tidak mahu mempergunakan akalnya, dengan ancaman penginaan. Dengan ancaman kekejian. Dengan ancaman “kekotoran”, tatkala menyebutkan “ar-rijs” (keji, kotor, najis) terhadap orang-orang yang tidak mahu mempergunakan akal.
“dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.”
(Surah Yunus [10:100])
Sungguh, bila saja minda tidak terbuka, bagaimana bisa kita berlapang dada? Dan begitu dada tidak bisa merasakan sejahtera (salamatus sadr) maka ketika itulah bibit-bibit awal berlakunya perpecahan.
Bukankah yang senantiasa dibanggakan oleh orang-orang beriman –seperti mana difirmankan ALLAH di dalam kalam-Nya- adalah deklarasi penuh kebanggaan betapa “wa qola innani minal muslimin” “dan berkatalah: sesungguhnya aku ini dari kalangan oarng-orang muslimin!” Ternyata, yang dibanggakan oleh seorang duat –seperti yang diajar indah di dalam al-Quran- bukanlah deklarasi kita ini jemaah mana. Harakah mana. Kumpulan apa. Tidak! Tetapi, yang harus kau banggakan, adalah keIslaman kalian. Keimanan kalian. Ketaqwaan kalian. Ukhuwwah Islamiyah yang dituntut sesama saudara seagama mu. Bukan ungkapan sempit sebatas lima, enam ribu orang ahli gerakan Islam kalian sahaja.
Tatkala ketemu saudara seiman yang berbeza pandangan dan gerakan dengan kalian, bukankah lebih wajar kita bicara masalah keimanan? Bicara hal-hal yang mampu menimbulkan kesekepakatan. Bicara perkara-perkara yang mampu menghangatkan ukhuwah sesama kalian? Tapi, apabila dada telah sempit, yang pertama dan terutama yang harus dikau tanyakan begitu bertemu saudara seiman yang lain “gerakan”, setelah sekian lama tidak ketemu, adalah soal-soal kejamaahan yang tidak lain melainkan menjauhkan ia daripadamu. Bukankah pada non-muslim sahaja kita dituntut bergaul dengan baik? Bukankah dengan ahli kitab sahaja kita dituntut berbicara kalimah-kalimah “sawa’” yakni kesamaan? Nah, sejak bila ajaran Quran dan Sunnah mengajarkan kepada kita untuk senantiasa mencari titik seteru dan perbezaan kepada sesama saudara seperjuangan, hanya kerana ia berlainan harakah, jemaah, kumpulan dan gerakan?
“Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang Muslim”
(Surah Ali Imran [3]:64)
Dada jadi sempit tatkala minda tidak dibuka. Dan minda jadi tidak berguna tatkala ia tidak dibuka. Lalu hiduplah ia dalam “kandang pemikiran”, “penjara pemikiran” yang telah disempadankan oleh musuh-musuh kita. Kandang inilah, yang dinamakan ghazwul fikri.
Seperti parachute, bukalah cepat minda mu, agar kau tidak jatuh terhempap menyembah bumi, lalu yang timbul tidak lain melainkan Kesakitan, kepedihan, dan keperitan. Sedang dengan parachute, kau bisa “menari” indah di langit nan tinggi, menikmati keluasan dan keindahan langit Ilahi. Untuk kemudian mendarat selamat di permukaan bumi. Dan menyuburkan ia dengan pandangan-pandangan indah di atas sana. Dan menyedarkan penghuninya akan keindahan hidup “di atas”, apa lagi tok nenek kita pun asalnya dari “sana.”
Bukalah parachute mu, dan moga selamat “pendaratan” mu. Bukalah mindamu, dan moga membumi segala ideamu.

