Followers

Monday, December 31, 2012

Windows

Kalau saja manusia itu rumah, maka cahaya hidayah itu tidak henti-henti menyinarinya, dan selalu cuba untuk memasukinya. Maka manusia itulah yang memilih untuk membuka “pintu” untuk cahaya itu masuk dan menyinari ruang kehidupannya, atau tidak.

 

Namun, betapa ramai juga manusia yang tidak membuka “pintu” tadi untuk hidayah menyapa, namun cahaya petunjuk itu tetap berjaya memasukinya. Bagaimana? Jika tidak melalui “pintu”, maka cahaya tetap bisa masuk melalui “jendela”nya.

Sepertinya Umar Al-Khattab, mudah-mudahan Allah sentiasa merahmatinya. Ia tidak membuka “pintu”nya untuk Islam memasukinya, sebaliknya hidayah Allah itulah yang menyinari hatinya, dari “jendela” naluri kasih seorang abang terhadap adiknya. Kerana itu, tetaplah bersyukur, sama ada anda menemui hidayah itu dengan mencarinya seraya membuka “pintu” hatimu untuk Islam, mahupun dikau menemui hidayah secara tidak sengaja, lantaran Allah telah memilihmu, dan memasukkan cahaya hidayah-Nya itu melalui “jendela”mu. Kedua-duanya adalah rahmat dan nikmat kurnia-Nya yang Maha Besar, dan tiada tolok bandingnya.

 

Oleh itu, peliharalah “jendela” hatimu. Kerana hati itu terkadang menerima, terkadang menolak. Ketika ia menerima, bukalah luas-luasnya “pintu”nya, dengan memperbanyakkan amal ibadah sebagai asbab kemanisan iman memasukinya. Tetapi, tatkala ia menolak, pastikanlah bersih “jendela” hatimu, agar iman itu tetap menggugah, memasuki jiwa, biar secara tidak sengaja, seperti masuknya hidayah ke “jendela” jiwanya seorang Umar.

 

 

Pastikan! Pastikan! Pastikan “jendela”mu itu tidak tercemar dek daki dan kotoran yang bisa menghalang masuknya cahaya ke dalam hatimu. Seperti pesannya seorang Syaikhul Islam Imam Ibnu Tayyimah rahimullah, tatkala mengomentari hadith tidak masuknya Malaikat ke dalam rumah yang ada di dalamnya anjing dan gambar. Katanya;

 

“Jika para Malaikat yang termasuk jenis makhluk, merasa terhalang untuk memasuki rumah yang ada anjing dan gambarnya,maka, bagaimana mungkin hati yang berisi pikiran buruk, bisa diisi oleh ma’rifat tentang Allah, cinta kepada-Nya dan kejinakan berdekatan dengan-Nya?”

(Muhammad Nursani, “Mencari Mutiara di Dasar Hati (seri 2), ms 88)

 

Kerana itu, contohilah teladan yang telah diberikan Al-marhum Ustaz Fadzil Noor. “Pendakwah,” kata Subky Abdul Latif tatkala mengomentari peribadi Ustaz Fadzil Noor yang sangat suka melayan semua jemputan, “tidak menolak sebarang peluang untuk menyampaikan risalah Islam.” (Subky Abdul Latif, “Fadzil Noor: Dia Guru Dia Kawan,” , ms 70). Kerana senantiasa menyampaikan risalah Islam itulah, di antara cara memastikan kebersihan dan ketelusan “jendela” jiwamu.

 

 

Bukalah pintumu, dan bersihkanlah jendelamu. Kerana engkau tidak akan tahu bila pintu hatimu tertutup, namun kau dapat pastikan kebersihan jendelamu, untuk cahaya menyinari dan meneranginya.

 

No comments:

Post a Comment